:: ketika kehidupan menjadi sekolah tanpa batas ::

          Tentang :: Syaifullah Agus Setyo Nugroho

Tuesday, April 11, 2006

Sial..!!!

Siang itu, 10 April 2006 aku balik ke Surabaya. Kira - kira pukul 13.00. Dari terminal Tuban aku naik bis Restu jurusan Semarang-Surabaya, aku duduk di deretan bangku 3, bangku ke 2 dari belakang, dan duduk di sebelah paling kiri. Selama perjalanan, tidak ada hal-hal aneh yang terjadi, semua normal - normal saja, hanya sopir sesekali ngebut dan berhenti mendadak.

Saat itu aku memakai kaos--celana jeans--jaket jeans. Selama perjalanan, beberapa aku mengecek dompetku, masih ada atau sudah hilang, dan alhamdulillah dompetku aman.

Singkat cerita aku sudah sampai di Bungurasih, aku turun seperti biasa dan dengan penyambutan yang biasa, "Taksi mas ??"..

Sambil mengatakan "Nggak Pak..makasih.." dan gaya yang tenang--cool--ganteng.halah!! aku berjalan seperti biasa ( kanan-kiri bergantian). Tujuan utamaku adalah tempat penitipan sepeda. Dengan panas matahari yang menyengat dan tetesan embun ( panas kok ono embun -- bokis banget..!!) langsung saja aku masuk ke area parkir sepeda, kucari sepeda kerenku --S 5542 HA--, nahh...ketemu. Karena mesinnya masih dingin, trus aku nyalakan sepedaku biar agak panas. Sambil menunggu mesin panas, aku siap-siap memakai kaos tangan dan mengambil helm. Assemm helmku basah banget, rupanya terkena air hujan.yah apess...

Setelah semua siap, aku angkat tasku, aku naikkan ke sepeda. Upsss.. Aku lupa, aku belum menyiapkan karcis parkirku yang aku masukkan ke dalam dompet. Langsung saja tangan kananku mengarah ke bagian paling seksi dari tubuhku --pantat-- bagian kanan--tempat dompetku. Dan........dompetku lenyap.

Kaget banget !! seumur-umur baru kali ini aku kecopetan. Langsung saja aku lepas kaos tangan dan helm trus aku matikan mesin, aku berjalan sambil membawa tas dengan wajah kaget--panik--nggak cool, aku ngomong ke pos parkir bahwa dompetku hilang dan menitipkan tasku sebentar. Setelah itu aku berjalan menuju temat dimana aku turun, aku telusuri tiap bagian dan berharap ada keajaiban dompetku ketemu, tapi nihil. Selanjutnya aku mencari bis yang aku naiki dari Tuban tadi, berharap dompetku tidak dicopet dan hanya terjatuh di dalam bis, memang aku nggak tau Nopol bis itu, tapi setidaknya aku tau wajah kondekturnya, sama saja nihil. Aku berpikir nggak mungkin dompetku bisa kembali, apalagi ini di Bungur, terminal yang terkenal banyak copetnya.

Begitu aku tidak menemukan dompetku, langsung saja aku telpon rumah, meminta agar dilakukan pemblokiran kartu kredit dan rekeningku. Langkah selanjutnya aku membuat berita acara kehilangan di Pos Polisi Bungur, untung pak polisinya baik dan ramah. Setelah mendapat surat keterangan dari kepolisian, aku kembali ke penitipan sepeda untuk mengambil tas dan sepeda. Ternyata kesialanku belum berhenti, saat akan keluar parkir, penjaga menanyakan karcis parkir dan STNK, langsung aja aku cerita dan menunjukkan surat keterangan dari Polisi. Aku kira surat itu cukup sakti untuk mengeluarkan sepedaku, ternyata si penjaga nggak mau tau, dia minta BPKB..alamak..BPKBku di Tuban. Teranga saja aku nggak bawa BPKB, dan sepedaku masih di tahan nggak bisa keluar.

Ya sudah, setelah ngeyel dan kalah, aku keluar dengan rasa jengkel dan tak lupa juga aku mengumpat khas umpatan orang ganteng. Saat itu di saku jaket ada uang 3000, sisa dari bayar bis tadi. Dengan uang 3000 aku nggak mungkin bisa nyampe dari Bungur ke Jojoran, kecuali dengan belas kasihan. Aku putuskan untuk pulang ke rumah kakakku di sidoarjo untuk mengatur langkah selanjutnya.

Selanjutnya aku konsultasi dengan kakakku dan ortuku ( via telp) tentang sepedaku yang nggak bisa di bawa keluar parkiran. Ternyata ortu bersedia ke surabaya demi anak tercinta. Jam 19.30 ortu sampai di bungur denga membawa BPKB, dengan modal BPKB aku mengambil sepedaku. Legaa akhirnya, setidaknya sepedaku bisa keluar.

Sampai saat ini belum ada keajaiban yang terjadi dengan dompetku, Dan aku seperti manusia tanpa identitas ( KTP -- STNK -- SIM A dan C -- Credit Card -- ATM, ludes).

Semoga ada manusia baik hati yang bersedia mengembalikan surat-suratku ( uangnya ambil aja..). Amin

0 Comments:

Post a Comment

<< Home